Sabtu, 05 November 2016

SRI MANDA SARI



KATA PENGANTAR
            Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “ TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN KONSTRUKTIF” Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada pembimbing umat, Rasulullah Muhammad SAW, serta keluarganya, para sahabatnya, dan umatnya hingga akhir zaman.

            Suatu kebahagiaan bagi penulis karena dapat menyelesaikan penulisan makalah ini sebagai salah tugas yang diberikan dalam mata kuliah Belajar Pembelajaran Sejarah di Universitas Simalungun Pematang Siantar.
           
            Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan, baik pada teknik penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan makalah ini.




Pematang Siantar, Oktober 2016

                                                                        Penulis


I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Secara psikologis, teori belajar dapat diartikan sebagai sebuah konsep yang disusun untuk memperkuat motivasi dalam jiwa manusia melalui penjelasan dari beberapa fakta dan penemuan yang berkaitan dengan proses belajar.
Dalam perkembangan teori baru dalam cabang ilmu psikologi pendidikan, muncullah beberapa teori dalam pelaksanaan pembelajaran yang dikaitkan  pada perkembangan anak. Berbagai penelitian telah dilakukan da banyak pula hasil reset yang telah dilaporkan. Salah satu dari teori tersebut adalah teori kognitif dan konstruktivistik. Dalam kajiannya kedua teori tersebut lebih terfokus pada aspek kognisi dan interaksi manusia.
Maka dari itulah penulis tertarik untuk mencoba menjelaskan mengenai apa saja yang harus diperhatikan dalam pengembangan kedua aspek tersebut. Dan selain itu juga karena untuk memenuhi kewajiban kami sebagai pengemis ilmu yang sangat membutuhkan bimbingan dalam memperoleh apa yang kami harapkan.
 RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan teori belajar itu?
2.      Apa yang dimaksud dengan teori belajar kognif?
3.      Apa yang dimaksud dengan teori belajar konstruktivistik?
4.      Bagaimana pengaruh kedua teori tersebut terhadap proses pembelajaran?

1.             TUJUAN PENULISAN
1.    Mampu memahami teori belajar secara psikologis.
2.    Mampu mengetahui pengaruh teori belajar kognitif dan kostruktivistik terhadap pembelajaran

II
PEMBAHASAN

A.      KOGNITIF DAN KONSTRUKTIVISTIK

1.     TEORI BELAJAR
Teori merupakan sebuah konsep atau definisi yang menggambarkan sesuatu dari sudut pandang tertentu terhadap sebuah fenomena secara sistematis dengan cara menghubungkan berbagai variabel didalamnya.
Sedangkan belajar sendiri dapat diartikan sebagai suatu proses yang menuntun pada perkembangan berfikir ataupun perubahan perilaku  dalam psikologi belajar dapat berperan sebagai suatu proses dan dapat pula sebagai suatu system.
Jadi teori belajar merupakan sebuah konsep yang menggambarkan suatu proses perkembangan dan perubahan yang disusun secara sistematis dengan menghubungkan bagian-baian yang tersedia dalam proses tersebut.
2.      TEORI KOGNITIF
2.1 Definisi Kognitif
Istilah cognitive berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti  dan penggunaan pengetahuan.
Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi popular sebagai salah satu domain wilayah atau ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusan diotak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.
Menurut para ahli jiwa aliran kognitifisme, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada aspek kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.
Teori ini berbeda dengan teori belajar behavior, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui(knowning) dan bukan stimulus dan respon. Teori ini menekankan pada peristiwa mental bukan stimulus-respon. Perilaku termasuk penting sebagai indikator namun yang lebih penting adalah berfikir. Dalam kaitannya dengan berfikir ini, pada manusia terbentuk strukutur mental atau organisasi mental. Pengetahuan terbentuk melalui proses pengorganisasian pengetahuan baru dengan struktur yang telah ada setelah pengetahuan baru tersebut diinterpretasikan oleh struktur yang ada tersebut. Dalam teori kognitif seorang individu itu harus aktif berfikir, dan berencana bukan pasif menerima stimulus dari lingkungan.
Menurut para ahli kognitif, individu merupakan partisipan aktif dalam proses memperoleh dan menggunakan pengetahuan. Individu berfikir secara aktif dalam membentuk wawasannya tentang kenyataan, memilih aspek-aspek penting dari pengalaman untuk disimpan dalam ingatan, atau digunakan dalam pemecahan masalah.
Psikologi kognitif menyebutkan bahwa belajar adalah peristiwa mental, bukan peristiwa perilaku fisik meskipun hal-hal yang bersifat behavioral terkadang tampak kasat mata dalam setiap peristiwa belajar manusia. Seseorang yang sedang belajar membaca dan menulis, tentu menggunakan perangkat jasmaniah –mulut dan tangan- untuk mengucapkan kata dan menggoreskan pena. Akan tetapi menggerakkan mulut dan menggoreskan pena yang dilakukannya tidak hanya dari respon atau stimulus yang ada, melainkan yang lebih penting karena dorongan mental yang diatur oleh otak.
Barlow (1985) sambil mengutip pandangan piaget meyebutkan bahwa seorang anak memiliki kebutuhan yang melekat pada dirinya sendiri untuk belajar.

2.2 Kognitivisme dalam Psikologi
    1. Psikologi Gestalt
Max Wertheimer (1880-1943) dapat dipandang sebagai pendiri aliran ini. Bersama kedua temannya Kurf Koffka dan Wolfgang Kohler melahirkan sebuah aliran psikologi untuk menentang aliran behaviorisme yang mempunyai pandangan yang elementaristik.
Pandangan pokok psikologi gestalt adalah berpusat bahwa apa yang dipersepsikan itu merupakan suatu kebetulan. Dalam individu mempersepsi sesuatu tidak hanya bergantung pada stimulus objektif, namun juga harus adanya aktivitas individu untuk menentukan hasil persepsinya.
Salah satu eksperimen yang cukup terkenal dari aliran ini dalam psikologi belajar adalah ekserimen kohler yang berkaitan dengan problem solving. Dengan menggunakan simpanse sebagai hewan percobaan. Menurut kolher apabila organisme dihadapkan pada suatu masalah, maka akan terjadi ketidaksinambungan kognitif dan ini akan bersambung hingga masalah dapat terpecahkan. Maka dari itu, dalam eksperimen ini dapat dutemukan bahwa bagi organisme untuk memperoleh pemecahan masalahnya diperlukanlah pengertian dan pengetahuan atau dengan insight.
2.      Teori kognitif Jean piaget
Dalam psikologi kognitif Piaget (1963) mengemukakan teori yang terperinci mengenai perkembangan intelektual anak. Piaget berpendapat bahwa anak menciptakan sendiri pengetahuan mereka tentang dunianya melalui interaksi mereka, mereka berlatih menggunakan informasi-informasi yang sudah mereka dengar sebelumnya dengan menggabungkan informasi baru dengan ketrampilan yang sudah dikenal, mereka juga menguji pengalamannya  dengan gagasan-gagasan baru.
Menurut Piaget, dalam memahami dunia anak secara aktif, mereka menggunakan skema kerangka kognitif atau referensi). Kerangka yang telah lahir dalam pikiran individu untuk mengorganisasi dan menginterpretasi unformasi baru dari memahami pengalaman mereka.
Dari penelitian yang dilakukan Piaget, dia mengemukakan dua proses yang terjadi atas cara anak mengolah dan mengadaptasi skema mereka, yaitu asimilasi dan akomodasi.
  1. Asimilasi, adalah proses penggabungan informasi baru yang ditemui dalam realitas dengan struktur kognisi seseorang. Asimilasi terjadi ketika anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang telah ada. Artinya, dalam asimilasi anak belajar menyesuaikan lingkungan terhadap satu konsep yakni dirinya.
  2. Akomodasi, adalah mengubah stuktur kognisi seseorang untuk disesuaikan, diselaraskan dengan atau meniru apa yang diamati dalam realitas. Akomodasi terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi yang baru diterimanya.

3.      Aplikasi Teori kognitif Pada Pembelajaran
Menurut Piaget aplikasi teori kognitif pada pembelajaran anak mencakup beberapa langkah, yakni:
1.                   Gunakan pendekatan konstruktivistik,
Dalam hal ini Piaget menekan bahwa anak-anak akan berkembang dan belajar dengan baik jika mereka aktif mencari solusi. Sehingga akan tidak sepenuhnya pasif dalam pembelajaran.
2.                   Fasilitasi mereka untuk belajar,
Guru yang efektif harus mampu menyediakan apa-apa yang dibutuhkan murid dalam belajar dan selain itu juga harus bisa merancang situasi yang membuat murid belajar dengan bertindak (learning by doing).
3.                   Pertimbangkan pengetahuan dan tingkat pemikiran anak,
Murid tidak datang ke sekolah dengan kepala kosong. Mereka datang dengan membawa gagasan tentang dunia fisik dan alam serta konsep ruang, waktu, kualitas, dan kuantitas. Dan perlu diingat bahwa ide anak-anak berbeda dengan ide orang dewasa. Maka dari itu, guru harus mampu menginterpretasikan apa yang dikatakan murid dan meresponnya dengan memberikan wacana yang sesui dengan tingkat pemikiran murid.
4.                   Gunakan penilaian terus menerus,
Makna yang disusun oleh individu tidak dapat diukur dengan tes standar. Artinya guru alam hl ini harus mampu memantau dan menilai seberapa besar perkembangan anak.
5.                   Tingkatkan tingkat intelektual anak,
Menurut Piaget pembelajaran anak harus bersifat ilmiah. Jadi guru harus bisa mengatur metode apa yang harus digunakan dan apa yang harus disampaikan yang dengan itu pemikiran anak secara perlahan dapat meningkat.
6.                  Jadikan ruang kelas menjadi ruang eksplorasi dan penemuan bagi anak,
Guru dalam hal ini berperan sebagai pembimbing yang mengarahkan murid agar melakukan eksplorasi dan menemukan kesimpula sendiri. Ruang kelas yang tidak terlalu rapi dengan kelas pada umumnya, buku pelajaran dan tugas guru tidak dipakai.  Guru lebih banyak mengamati minat murid dan partisipasi ilmiah dalam aktivitas mereka untuk menentukan materi apa yang akan disampaikan.

3.      TEORI KONSTRUKTIVISTIK
Salah satu pendekatan yang dalam tiga dakade terakhir dijadikan landasan dalam pengembangan dan penelitian pembelajaran adalah konstruktivisme. Pendekatan ini lebih banyak dibicarakan dalam konteks pembelajaran bagi anak-anak, sementara pembelajaran orang dewasa lebih sering menggunakan pendekatan learning cycle.
Sebagian ahli seperti Kevin Thomson [8] berpendapat bahwa orang dewasa cenderung belajar dengan cepat tanpa terlibat langsung dalam proses refleksi (perenungan) dan elaborasi (ketelitian) seperti pada teori konstruktivisme. Ini diantaranya yang menyebabkan jarangnya penerapan konstruktivisme dalam pembelajaran orang dewasa. Namun demikian, Perkin memiliki ide berbeda bahwa pada orang dewasa pun terjadi keterlibatan pengetahuan awal (prior knowledge) yang dimanipulasi sehingga terbangun pengetahuan baru. Ini memungkinkan adanya peluang penerapan teori konstruktivisme sebagai pendekatan dalam pembelajaran orang dewasa.
            3.1 Definisi Konstruktivistik
Pengetahuan dianggap sebagai kumpulan fakta. Namun akhir-akhir ini terlebih dalam bidang sains diterima bahwa pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang belajar mengerti. Pengetahuan lebih dianggap sebagai suatu proses pembentukan (konstruksi) yang terus-menerus berkembang dan berubah.
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan  bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. Von Glasersfled menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan. Dalam konteks flsafat pendidikan konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern dan dibangun sedikit demi sedikit.
Pembelajaran konstruktivistik adalah membangunkan pengetahuan melalui pengalaman, interaksi sosial, dan dunia nyata. Pengetahuan bukan seperti benda yang mudah dimuatkan dalam wadahnya. Menurut Piaget (1991; 310) menyebutkan pengetahuan itu bukan satuan obyektif yang ada dilingkungan, melainkan merupakan interaksi antara individu dengan lingkungannya, dan ia mempunyai komponen subyektif maupun obyektif.
Pembelajaran konstruktivistik adalah pembelajaran berpusan pada peserta didik, guru sebagai mediator, fasilitator, dan sumber belajar dalam pembelajaran. Menurut Piaget (dalam Gredler, 1991;308) proses pembelajaran merupakan upaya mencerdasan peserta didik kaarena belajar sebagai proses sepesifik yang terjadi dalam parameter luas  yang ditentukan oleh kecerdasan. Piaget menjelaskan bahwa kecerdasan suatu proses yang terus berlangsung dan selalu berubah. Mekanisme individu berinteraksi dengan lingkungan pada suatu waktu tertentu dan suatu proses yang terus menerus membentuk dirinya sendiri

3.2  Konstruktivisme Dalam Psikologi
Piaget mengemukakan dua prinsip konstruktivisme mengenai belajar dan pembelajaran (Detken Scheepers, 2000).
  1. Belajar merupakan sebuah proses aktif: pengalaman langsung, berbuat kesalahan, dan mencari penyelesaian merupakan aktivitas vital dalam proses asimilasi dan acomodasi informasi. Bagaimana informasi diungkapkan merupakan bagian penting. Ketikka informasi diperkenalkan sebagai alat intuk menyelesaikan masalah, akan berfungsi sebagai alat dari pada sebaga fakta mati.
  2. Belajar harus menyeluruh, otentik (asli) dan nyata: Makna dibangun melalui interaksi dengan alam sekitar, bukan hasil sebuah latihan yang terisolasi. Dalam pandangan Piaget, berlatih keteramplian seperti pembagian atau penjumlahan merupakan proses belajar yang baik namun sebaiknya anak terlibat dalam kaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari seperti berperan sebagai penjaga toko dan sejenisnya. Belajar menyeluruh merupakan kebalikan dari latihan terisolasi.
Prinsip-prinsip tersebut memberikan landasan bagi praktek pembelajaran dan mengarahkan kepada sebuah karakter pembelajaran yang student centered dimana peserta diklat memiliki banyak memiliki otoritas dalam belajar dari pada fasilitator. Dalam proses pembelajaran fasilitator diharapkan berperan sebagai fasilitator belajar yang memberikan kesempatan kepada peserta diklat untuk melakukan perubahan. Selain itu prinsip-prinsip tersebut menegaskan pentingnya mengaitkan proses belajar dengan konteks lingkungan sehingga belajar bukan proses yang terisolasi.
Vigotsky yang terkenal sebagai penggagas konstruktivisme sosial (social constructivism) menegaskan bahwa pengetahuan dibangun oleh seseorang melalui interaksi sosial. Vigotsky menekankan pada pentingnya konteks sosio-kultural dimana proses belajar terjadi. Menuturut vogotsky belajar terjadi melalui interaksi sosial antara peserta diklat dengan peserta diklat dan antara peserta diklat denga fasilitator. Dari sinilah dia berasumsi bahwa
Gagasan ini mengkristal dalam sebuah strategi pembelajaran yang disebut zone of proximal development (ZPD). Pendekatan ini menggambarkan bahwa seseorang membutuhkan bimbingan dari orang yang dianggap kemampuannya lebih tinggi dalam proses belajar. Setiap orang memiliki kemampuan dasar (prior knowledge). Kemampuan tersebut akan meningkat melalui sebuah ruang atau momen (ZPD) dimana dalam momen tersebut terjadi proses peniruan sehingga peniru fasih. Dapat juga dinytakan bahwa ZPD merupakan selisih antara pencapaian yang dapat diperoleh seseorang secara mandiri dengan pencapaian yang diperoleh melalui sebuah pendampingan oleh orang lain (significant other).[9]
Berdasarkan paparan singkat diatas beberapa hal terkait dengan prinsip pembelajaran dalam konstruktivisme dapat disarikan sebagai berikut:
  1. Belajar merupakan proses aktif (active learning)
  2. Belajar harus melalui pengalaman langsung (real life learning)
  3. Pengetahuan awal (prior knowledge) sangat bermakna karena akan merupakan landasan untuk membangun pengetahuan baru.
  4. Belajar melalui proses penalaran (reasoning process)
  5. Dalam konstruktivisme sosial belajar terjadi melalui interaksi soasial (social interaction).
  6. Pentingnya proses pendampingan dalam belajar (dalam konsep ZPD)
3.3  Aplikasi Teori Konstruktivistik Pada Pembelajaran

3.3.1        Makna belajar
Menurut kaum kontruktivisme belajar merupakan proses aktif belajar pelajar dalam mengkonstruksikan arti tex, dialog, pengalaman fisik, dan lain-lain.  Jelas bahwa bagi nkonstruktivisme kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif dimana pelajar membangun sendiri pengetahuanya pelajar mencari arti sendiri makna dari apa yang mereka pelajari. Berarti belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan dari abstraksi pengalaman baik alami maupun manusiawi dan proses tersebut dilakukan secara pribadi dan sosial. Proses ini adalah proses yang aktif. Beberapa faktor seperti pengalaman, pengetahuan, kemampuan kognitif, dan lingkungan berpengaruh terhadap hasil belajar.
3.3.2        Fungsi dan Peran Pengajar
Menurut pemahaman dan prinsip konstruktivis seorang pengajar atau guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membatu agar proses belajar murid berjalan dengan baik. Adapun beberapa hal yang penting dikerjakan pengajar.
3.3.3        Penguasaan bahan
Peran guru sangat menuntut penguasaan bahan dan pengetahuan yang sangat luas dan sangat perlu seorang guru mengetahui juga tentang kontexs bahan . Guru konstruktivisme diharapkan juga mengertin proses belajar yang baik. Mereka perlu mengetahui proses asimilasi dan akomodasi yang diperlukan oleh siswa dalam memperkembangkan pengetahuan mereka.
3.3.4        Strategi mengajar
Tugas guru adalah membatu agar siswa mampu mengkonstruksi pengetahuanya sesuai dengan situasi yang konkret maka strategi mengajar perlu juga disesuaikan. Driver dan Oldham menjalankan beberapa ciri konstruktivis sebagai berikut :
  1. Orientasi. Murid diberi kesempatan untuk mengembangakan motivasi dalam suatu topiki.
  2. Elicitasi. Murid dibantu untuk mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis, membuat poster, dan lain-lain.
  3. Restrukturisasi ide. Yati dengan cara mengklarifiksasi ide, membangun ide yang baru, dan mengevaluasi idenya dengan eksperimen.
  4. Penggunaan ide dalam banyak situasi.
  5. Review bagaimana ide tersebut berubah.
  6. Mengevaluasi proses belajar murid
Perlu ditentukan apakah kita ingin murid memperkembangkan kemampuan berfikirnya atau sekedar mampu menangani prosedur standar dan memberikan jawaban setandar. Menurut van glasersfeld bahwasanya seorang guru bisa mengevaluasi dengan cara memberikan satu soal kepada murid dan dengan mengamati cara jalan konsep mereka dalam mengerjakanya.
3.3.5        Hubungan guru dengan murid
Dalam aliran konstruktivisme guru bukanlah orang yang maha tahu dan murid bukanlah yang maha tidak atau belum tahu dan karena itulah maka aliran ini mengatakan bahwasanya hubungan antara kesduanya lebih bercondong seorang guru untuk membantu perkembangan pengetahuan muridnya dan mengembangkan pengetahua keduanya.
Secara garis besar, prinsip-prinsip konstruktivisme yang diambil adalah sebagai berikut:[10]
Ø  Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal ataupun sosial,
Ø  Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar,
Ø  Murid aktif mengkonstruksi terus menerus , sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci, lengkap dan sesuai dengan konsep ilmiah,
Ø  Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.

4.      PENGARUH TEORI KOGNITIF DAN KONSTRUKTIVISTIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa pengaruh teori belajar kognitif dan konstruktivistik dalam pembelajaran adalah:
  1. Memberikan peluang kepada murid untuk lebih aktif membangun pola nalar fikir murid dalam proses pencapaian tujuan sesuai dengan kesadaran.
  2. Meningkatkan tingkat intelektual guru dan murid dan semua variabel yang terkait di dalamnya.
  3. Memperkuat dorongan mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Termasuk juga pegaruhnya pada ranah konasi dan efeksi seseorang.
  4. Mempererat hubungan antara guru dan murid, karena dalam penerapannya mereka saling menghargai batas kemampuan yang dimiliki, karena dalam hal ini interaksi masih tetap berjalan.
  5. Mampu memahami dan mengolah beberapa informasi menjadi sebuah skema khusus dari setiap individu.






III
PENUTUP
  1. KESIMPULAN
Teori belajar merupakan sebuah konsep yang menggambarkan suatu proses perkembangan dan perubahan yang disusun secara sistematis dengan menghubungkan bagian-baian yang tersedia dalam proses tersebut.
Secara psikologis terdapat beberapa teori yang berkaitan dalam belajar salah satunya teori belajar kognitif yang berpusat pada aspek pemahaman dan teori konstruktivistik yang berpusat pada pengolahan informasi.
Menurut Piaget, dalam memahami dunia anak secara aktif, mereka menggunakan dua proses yang terjadi atas cara mereka mengolah dan mengadaptasi skema mereka, yaitu asimilasi dan akomodasi.
Berbeda dengan Vygotsky yang menemukan konsep zone of proximal development (ZPD) dalam meningkatkan kedewasaan anak melalui hubungan social kebudayaan dengan anak lain
Pengaruh kedua teori ini terhadap pembelajaran dalam diketahui melalui beberapa aspek yakni, aspek kognitif, social, dan aspek psikomotorik anak yang bersifat membangun individu secara afektif .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar