KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang
telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan
makalah yang berjudul “ TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN KONSTRUKTIF” Shalawat
dan salam semoga senantiasa tercurah kepada pembimbing umat, Rasulullah
Muhammad SAW, serta keluarganya, para sahabatnya, dan umatnya hingga akhir
zaman.
Suatu kebahagiaan bagi penulis
karena dapat menyelesaikan penulisan makalah ini sebagai salah tugas yang
diberikan dalam mata kuliah Belajar Pembelajaran Sejarah di Universitas
Simalungun Pematang Siantar.
Dalam penulisan makalah ini penulis
merasa masih banyak kekurangan, baik pada teknik penulisan maupun materi,
mengingat kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua
pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan makalah ini.
Pematang
Siantar, Oktober 2016
Penulis
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Secara psikologis, teori belajar
dapat diartikan sebagai sebuah konsep yang disusun untuk memperkuat motivasi
dalam jiwa manusia melalui penjelasan dari beberapa fakta dan penemuan yang
berkaitan dengan proses belajar.
Dalam perkembangan teori baru dalam
cabang ilmu psikologi pendidikan, muncullah beberapa teori dalam pelaksanaan
pembelajaran yang dikaitkan pada perkembangan anak. Berbagai penelitian
telah dilakukan da banyak pula hasil reset yang telah dilaporkan. Salah satu
dari teori tersebut adalah teori kognitif dan konstruktivistik. Dalam kajiannya
kedua teori tersebut lebih terfokus pada aspek kognisi dan interaksi manusia.
Maka dari itulah penulis tertarik
untuk mencoba menjelaskan mengenai apa saja yang harus diperhatikan dalam
pengembangan kedua aspek tersebut. Dan selain itu juga karena untuk memenuhi kewajiban
kami sebagai pengemis ilmu yang sangat membutuhkan bimbingan dalam memperoleh
apa yang kami harapkan.
RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas dapat
ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Apa yang dimaksud dengan teori
belajar itu?
2.
Apa yang dimaksud dengan teori
belajar kognif?
3.
Apa yang dimaksud dengan teori
belajar konstruktivistik?
4.
Bagaimana pengaruh kedua teori
tersebut terhadap proses pembelajaran?
1.
TUJUAN PENULISAN
1.
Mampu memahami teori belajar secara
psikologis.
2.
Mampu mengetahui pengaruh teori
belajar kognitif dan kostruktivistik terhadap pembelajaran
II
PEMBAHASAN
A.
KOGNITIF DAN KONSTRUKTIVISTIK
1. TEORI
BELAJAR
Teori merupakan sebuah konsep atau
definisi yang menggambarkan sesuatu dari sudut pandang tertentu terhadap sebuah
fenomena secara sistematis dengan cara menghubungkan berbagai variabel
didalamnya.
Sedangkan belajar sendiri dapat
diartikan sebagai suatu proses yang menuntun pada perkembangan berfikir ataupun
perubahan perilaku dalam psikologi belajar dapat berperan sebagai suatu
proses dan dapat pula sebagai suatu system.
Jadi teori belajar merupakan sebuah
konsep yang menggambarkan suatu proses perkembangan dan perubahan yang disusun
secara sistematis dengan menghubungkan bagian-baian yang tersedia dalam proses
tersebut.
2. TEORI
KOGNITIF
2.1 Definisi
Kognitif
Istilah cognitive berasal
dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti dan
penggunaan pengetahuan.
Dalam perkembangan selanjutnya,
istilah kognitif menjadi popular sebagai salah satu domain wilayah atau ranah
psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan
pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan,
dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusan diotak ini juga berhubungan dengan
konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.
Menurut para ahli jiwa aliran
kognitifisme, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada aspek
kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku
itu terjadi.
Teori ini berbeda dengan teori
belajar behavior, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui(knowning)
dan bukan stimulus dan respon. Teori ini menekankan pada peristiwa mental bukan
stimulus-respon. Perilaku termasuk penting sebagai indikator namun yang lebih
penting adalah berfikir. Dalam kaitannya dengan berfikir ini, pada manusia
terbentuk strukutur mental atau organisasi mental. Pengetahuan terbentuk
melalui proses pengorganisasian pengetahuan baru dengan struktur yang telah ada
setelah pengetahuan baru tersebut diinterpretasikan oleh struktur yang ada
tersebut. Dalam teori kognitif seorang individu itu harus aktif berfikir, dan
berencana bukan pasif menerima stimulus dari lingkungan.
Menurut para ahli kognitif, individu
merupakan partisipan aktif dalam proses memperoleh dan menggunakan pengetahuan.
Individu berfikir secara aktif dalam membentuk wawasannya tentang kenyataan, memilih
aspek-aspek penting dari pengalaman untuk disimpan dalam ingatan, atau digunakan
dalam pemecahan masalah.
Psikologi kognitif menyebutkan bahwa
belajar adalah peristiwa mental, bukan peristiwa perilaku fisik meskipun
hal-hal yang bersifat behavioral terkadang tampak kasat mata dalam setiap
peristiwa belajar manusia. Seseorang yang sedang belajar membaca dan menulis,
tentu menggunakan perangkat jasmaniah –mulut dan tangan- untuk mengucapkan kata
dan menggoreskan pena. Akan tetapi menggerakkan mulut dan menggoreskan pena
yang dilakukannya tidak hanya dari respon atau stimulus yang ada, melainkan
yang lebih penting karena dorongan mental yang diatur oleh otak.
Barlow (1985) sambil mengutip
pandangan piaget meyebutkan bahwa seorang anak memiliki kebutuhan yang melekat
pada dirinya sendiri untuk belajar.
2.2 Kognitivisme
dalam Psikologi
- Psikologi Gestalt
Max Wertheimer (1880-1943) dapat
dipandang sebagai pendiri aliran ini. Bersama kedua temannya Kurf Koffka dan
Wolfgang Kohler melahirkan sebuah aliran psikologi untuk menentang aliran
behaviorisme yang mempunyai pandangan yang elementaristik.
Pandangan pokok psikologi gestalt
adalah berpusat bahwa apa yang dipersepsikan itu merupakan suatu kebetulan.
Dalam individu mempersepsi sesuatu tidak hanya bergantung pada stimulus
objektif, namun juga harus adanya aktivitas individu untuk menentukan hasil
persepsinya.
Salah satu eksperimen yang cukup
terkenal dari aliran ini dalam psikologi belajar adalah ekserimen kohler yang
berkaitan dengan problem solving. Dengan menggunakan simpanse sebagai hewan
percobaan. Menurut kolher apabila organisme dihadapkan pada suatu masalah, maka
akan terjadi ketidaksinambungan kognitif dan ini akan bersambung hingga masalah
dapat terpecahkan. Maka dari itu, dalam eksperimen ini dapat dutemukan bahwa
bagi organisme untuk memperoleh pemecahan masalahnya diperlukanlah pengertian
dan pengetahuan atau dengan insight.
2. Teori kognitif Jean piaget
Dalam psikologi kognitif Piaget
(1963) mengemukakan teori yang terperinci mengenai perkembangan intelektual
anak. Piaget berpendapat bahwa anak menciptakan sendiri pengetahuan mereka
tentang dunianya melalui interaksi mereka, mereka berlatih menggunakan
informasi-informasi yang sudah mereka dengar sebelumnya dengan menggabungkan
informasi baru dengan ketrampilan yang sudah dikenal, mereka juga menguji
pengalamannya dengan gagasan-gagasan baru.
Menurut Piaget, dalam memahami dunia
anak secara aktif, mereka menggunakan skema kerangka kognitif atau referensi).
Kerangka yang telah lahir dalam pikiran individu untuk mengorganisasi dan
menginterpretasi unformasi baru dari memahami pengalaman mereka.
Dari penelitian yang dilakukan
Piaget, dia mengemukakan dua proses yang terjadi atas cara anak mengolah dan
mengadaptasi skema mereka, yaitu asimilasi dan akomodasi.
- Asimilasi, adalah proses penggabungan informasi baru yang ditemui dalam realitas dengan struktur kognisi seseorang. Asimilasi terjadi ketika anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang telah ada. Artinya, dalam asimilasi anak belajar menyesuaikan lingkungan terhadap satu konsep yakni dirinya.
- Akomodasi, adalah mengubah stuktur kognisi seseorang untuk disesuaikan, diselaraskan dengan atau meniru apa yang diamati dalam realitas. Akomodasi terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi yang baru diterimanya.
3.
Aplikasi Teori kognitif Pada
Pembelajaran
Menurut Piaget aplikasi teori
kognitif pada pembelajaran anak mencakup beberapa langkah, yakni:
1.
Gunakan pendekatan konstruktivistik,
Dalam hal ini Piaget menekan bahwa
anak-anak akan berkembang dan belajar dengan baik jika mereka aktif mencari
solusi. Sehingga akan tidak sepenuhnya pasif dalam pembelajaran.
2.
Fasilitasi mereka untuk belajar,
Guru yang efektif harus mampu
menyediakan apa-apa yang dibutuhkan murid dalam belajar dan selain itu juga
harus bisa merancang situasi yang membuat murid belajar dengan bertindak (learning
by doing).
3.
Pertimbangkan pengetahuan dan
tingkat pemikiran anak,
Murid tidak datang ke sekolah dengan
kepala kosong. Mereka datang dengan membawa gagasan tentang dunia fisik dan
alam serta konsep ruang, waktu, kualitas, dan kuantitas. Dan perlu diingat
bahwa ide anak-anak berbeda dengan ide orang dewasa. Maka dari itu, guru harus
mampu menginterpretasikan apa yang dikatakan murid dan meresponnya dengan
memberikan wacana yang sesui dengan tingkat pemikiran murid.
4.
Gunakan penilaian terus menerus,
Makna yang disusun oleh individu
tidak dapat diukur dengan tes standar. Artinya guru alam hl ini harus mampu
memantau dan menilai seberapa besar perkembangan anak.
5.
Tingkatkan tingkat intelektual anak,
Menurut Piaget pembelajaran anak
harus bersifat ilmiah. Jadi guru harus bisa mengatur metode apa yang harus
digunakan dan apa yang harus disampaikan yang dengan itu pemikiran anak secara
perlahan dapat meningkat.
6.
Jadikan ruang kelas menjadi ruang
eksplorasi dan penemuan bagi anak,
Guru dalam hal ini berperan sebagai
pembimbing yang mengarahkan murid agar melakukan eksplorasi dan menemukan
kesimpula sendiri. Ruang kelas yang tidak terlalu rapi dengan kelas pada
umumnya, buku pelajaran dan tugas guru tidak dipakai. Guru lebih banyak
mengamati minat murid dan partisipasi ilmiah dalam aktivitas mereka untuk
menentukan materi apa yang akan disampaikan.
3.
TEORI KONSTRUKTIVISTIK
Salah satu pendekatan yang dalam
tiga dakade terakhir dijadikan landasan dalam pengembangan dan penelitian
pembelajaran adalah konstruktivisme. Pendekatan ini lebih banyak dibicarakan
dalam konteks pembelajaran bagi anak-anak, sementara pembelajaran orang dewasa
lebih sering menggunakan pendekatan learning cycle.
Sebagian ahli seperti Kevin
Thomson [8] berpendapat bahwa orang dewasa cenderung
belajar dengan cepat tanpa terlibat langsung dalam proses refleksi (perenungan)
dan elaborasi (ketelitian) seperti pada teori konstruktivisme. Ini diantaranya
yang menyebabkan jarangnya penerapan konstruktivisme dalam pembelajaran orang
dewasa. Namun demikian, Perkin memiliki ide berbeda bahwa pada orang
dewasa pun terjadi keterlibatan pengetahuan awal (prior knowledge) yang
dimanipulasi sehingga terbangun pengetahuan baru. Ini memungkinkan adanya
peluang penerapan teori konstruktivisme sebagai pendekatan dalam pembelajaran
orang dewasa.
3.1 Definisi Konstruktivistik
Pengetahuan dianggap sebagai
kumpulan fakta. Namun akhir-akhir ini terlebih dalam bidang sains diterima
bahwa pengetahuan tidak lepas dari subjek yang sedang belajar mengerti.
Pengetahuan lebih dianggap sebagai suatu proses pembentukan (konstruksi) yang
terus-menerus berkembang dan berubah.
Konstruktivisme adalah salah satu
filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah
konstruksi (bentukan) kita sendiri. Von Glasersfled menegaskan bahwa
pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan. Dalam konteks flsafat
pendidikan konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang
berbudaya modern dan dibangun sedikit demi sedikit.
Pembelajaran konstruktivistik adalah
membangunkan pengetahuan melalui pengalaman, interaksi sosial, dan dunia nyata.
Pengetahuan bukan seperti benda yang mudah dimuatkan dalam wadahnya. Menurut
Piaget (1991; 310) menyebutkan pengetahuan itu bukan satuan obyektif yang ada
dilingkungan, melainkan merupakan interaksi antara individu dengan
lingkungannya, dan ia mempunyai komponen subyektif maupun obyektif.
Pembelajaran konstruktivistik adalah
pembelajaran berpusan pada peserta didik, guru sebagai mediator, fasilitator,
dan sumber belajar dalam pembelajaran. Menurut Piaget (dalam Gredler, 1991;308)
proses pembelajaran merupakan upaya mencerdasan peserta didik kaarena belajar
sebagai proses sepesifik yang terjadi dalam parameter luas yang
ditentukan oleh kecerdasan. Piaget menjelaskan bahwa kecerdasan suatu proses
yang terus berlangsung dan selalu berubah. Mekanisme individu berinteraksi
dengan lingkungan pada suatu waktu tertentu dan suatu proses yang terus menerus
membentuk dirinya sendiri
3.2 Konstruktivisme
Dalam Psikologi
Piaget mengemukakan dua prinsip
konstruktivisme mengenai belajar dan pembelajaran (Detken Scheepers, 2000).
- Belajar merupakan sebuah proses aktif: pengalaman langsung, berbuat kesalahan, dan mencari penyelesaian merupakan aktivitas vital dalam proses asimilasi dan acomodasi informasi. Bagaimana informasi diungkapkan merupakan bagian penting. Ketikka informasi diperkenalkan sebagai alat intuk menyelesaikan masalah, akan berfungsi sebagai alat dari pada sebaga fakta mati.
- Belajar harus menyeluruh, otentik (asli) dan nyata: Makna dibangun melalui interaksi dengan alam sekitar, bukan hasil sebuah latihan yang terisolasi. Dalam pandangan Piaget, berlatih keteramplian seperti pembagian atau penjumlahan merupakan proses belajar yang baik namun sebaiknya anak terlibat dalam kaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari seperti berperan sebagai penjaga toko dan sejenisnya. Belajar menyeluruh merupakan kebalikan dari latihan terisolasi.
Prinsip-prinsip tersebut memberikan
landasan bagi praktek pembelajaran dan mengarahkan kepada sebuah karakter
pembelajaran yang student centered dimana peserta diklat
memiliki banyak memiliki otoritas dalam belajar dari pada fasilitator. Dalam
proses pembelajaran fasilitator diharapkan berperan sebagai fasilitator belajar
yang memberikan kesempatan kepada peserta diklat untuk melakukan perubahan. Selain
itu prinsip-prinsip tersebut menegaskan pentingnya mengaitkan proses belajar
dengan konteks lingkungan sehingga belajar bukan proses yang terisolasi.
Vigotsky yang terkenal sebagai
penggagas konstruktivisme sosial (social constructivism) menegaskan bahwa
pengetahuan dibangun oleh seseorang melalui interaksi sosial. Vigotsky
menekankan pada pentingnya konteks sosio-kultural dimana proses belajar
terjadi. Menuturut vogotsky belajar terjadi melalui interaksi sosial antara
peserta diklat dengan peserta diklat dan antara peserta diklat denga
fasilitator. Dari sinilah dia berasumsi bahwa
Gagasan ini mengkristal dalam sebuah
strategi pembelajaran yang disebut zone of proximal development (ZPD).
Pendekatan ini menggambarkan bahwa seseorang membutuhkan bimbingan dari orang
yang dianggap kemampuannya lebih tinggi dalam proses belajar. Setiap orang
memiliki kemampuan dasar (prior knowledge). Kemampuan tersebut akan
meningkat melalui sebuah ruang atau momen (ZPD) dimana dalam momen tersebut
terjadi proses peniruan sehingga peniru fasih. Dapat juga dinytakan bahwa ZPD
merupakan selisih antara pencapaian yang dapat diperoleh seseorang secara
mandiri dengan pencapaian yang diperoleh melalui sebuah pendampingan oleh orang
lain (significant other).[9]
Berdasarkan paparan singkat diatas
beberapa hal terkait dengan prinsip pembelajaran dalam konstruktivisme dapat
disarikan sebagai berikut:
- Belajar merupakan proses aktif (active learning)
- Belajar harus melalui pengalaman langsung (real life learning)
- Pengetahuan awal (prior knowledge) sangat bermakna karena akan merupakan landasan untuk membangun pengetahuan baru.
- Belajar melalui proses penalaran (reasoning process)
- Dalam konstruktivisme sosial belajar terjadi melalui interaksi soasial (social interaction).
- Pentingnya proses pendampingan dalam belajar (dalam konsep ZPD)
3.3 Aplikasi
Teori Konstruktivistik Pada Pembelajaran
3.3.1
Makna
belajar
Menurut kaum kontruktivisme belajar
merupakan proses aktif belajar pelajar dalam mengkonstruksikan arti tex,
dialog, pengalaman fisik, dan lain-lain. Jelas bahwa bagi
nkonstruktivisme kegiatan belajar adalah kegiatan yang aktif dimana pelajar
membangun sendiri pengetahuanya pelajar mencari arti sendiri makna dari apa
yang mereka pelajari. Berarti belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan
dari abstraksi pengalaman baik alami maupun manusiawi dan proses tersebut
dilakukan secara pribadi dan sosial. Proses ini adalah proses yang aktif.
Beberapa faktor seperti pengalaman, pengetahuan, kemampuan kognitif, dan
lingkungan berpengaruh terhadap hasil belajar.
3.3.2
Fungsi dan
Peran Pengajar
Menurut pemahaman dan prinsip
konstruktivis seorang pengajar atau guru berperan sebagai mediator dan
fasilitator yang membatu agar proses belajar murid berjalan dengan baik. Adapun
beberapa hal yang penting dikerjakan pengajar.
3.3.3
Penguasaan
bahan
Peran guru sangat menuntut
penguasaan bahan dan pengetahuan yang sangat luas dan sangat perlu seorang guru
mengetahui juga tentang kontexs bahan . Guru konstruktivisme diharapkan juga
mengertin proses belajar yang baik. Mereka perlu mengetahui proses asimilasi
dan akomodasi yang diperlukan oleh siswa dalam memperkembangkan pengetahuan
mereka.
3.3.4
Strategi
mengajar
Tugas guru adalah membatu agar siswa
mampu mengkonstruksi pengetahuanya sesuai dengan situasi yang konkret maka
strategi mengajar perlu juga disesuaikan. Driver dan Oldham menjalankan
beberapa ciri konstruktivis sebagai berikut :
- Orientasi. Murid diberi kesempatan untuk mengembangakan motivasi dalam suatu topiki.
- Elicitasi. Murid dibantu untuk mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis, membuat poster, dan lain-lain.
- Restrukturisasi ide. Yati dengan cara mengklarifiksasi ide, membangun ide yang baru, dan mengevaluasi idenya dengan eksperimen.
- Penggunaan ide dalam banyak situasi.
- Review bagaimana ide tersebut berubah.
- Mengevaluasi proses belajar murid
Perlu ditentukan apakah kita ingin
murid memperkembangkan kemampuan berfikirnya atau sekedar mampu menangani
prosedur standar dan memberikan jawaban setandar. Menurut van glasersfeld
bahwasanya seorang guru bisa mengevaluasi dengan cara memberikan satu soal
kepada murid dan dengan mengamati cara jalan konsep mereka dalam mengerjakanya.
3.3.5
Hubungan
guru dengan murid
Dalam aliran konstruktivisme guru
bukanlah orang yang maha tahu dan murid bukanlah yang maha tidak atau belum
tahu dan karena itulah maka aliran ini mengatakan bahwasanya hubungan antara
kesduanya lebih bercondong seorang guru untuk membantu perkembangan pengetahuan
muridnya dan mengembangkan pengetahua keduanya.
Secara garis besar, prinsip-prinsip
konstruktivisme yang diambil adalah sebagai berikut:[10]
Ø
Pengetahuan dibangun oleh siswa
sendiri, baik secara personal ataupun sosial,
Ø
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan
dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar,
Ø
Murid aktif mengkonstruksi terus
menerus , sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih
rinci, lengkap dan sesuai dengan konsep ilmiah,
Ø
Guru sekedar membantu menyediakan
sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus.
4.
PENGARUH TEORI KOGNITIF DAN
KONSTRUKTIVISTIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Dari penjelasan diatas dapat
diketahui bahwa pengaruh teori belajar kognitif dan konstruktivistik dalam
pembelajaran adalah:
- Memberikan peluang kepada murid untuk lebih aktif membangun pola nalar fikir murid dalam proses pencapaian tujuan sesuai dengan kesadaran.
- Meningkatkan tingkat intelektual guru dan murid dan semua variabel yang terkait di dalamnya.
- Memperkuat dorongan mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Termasuk juga pegaruhnya pada ranah konasi dan efeksi seseorang.
- Mempererat hubungan antara guru dan murid, karena dalam penerapannya mereka saling menghargai batas kemampuan yang dimiliki, karena dalam hal ini interaksi masih tetap berjalan.
- Mampu memahami dan mengolah beberapa informasi menjadi sebuah skema khusus dari setiap individu.
III
PENUTUP
- KESIMPULAN
Teori belajar merupakan sebuah
konsep yang menggambarkan suatu proses perkembangan dan perubahan yang disusun
secara sistematis dengan menghubungkan bagian-baian yang tersedia dalam proses
tersebut.
Secara psikologis terdapat beberapa
teori yang berkaitan dalam belajar salah satunya teori belajar kognitif yang
berpusat pada aspek pemahaman dan teori konstruktivistik yang berpusat pada
pengolahan informasi.
Menurut Piaget, dalam memahami dunia
anak secara aktif, mereka menggunakan dua proses yang terjadi atas cara mereka
mengolah dan mengadaptasi skema mereka, yaitu asimilasi dan akomodasi.
Berbeda dengan Vygotsky yang
menemukan konsep zone of proximal development (ZPD) dalam meningkatkan
kedewasaan anak melalui hubungan social kebudayaan dengan anak lain
Pengaruh kedua teori ini terhadap
pembelajaran dalam diketahui melalui beberapa aspek yakni, aspek kognitif,
social, dan aspek psikomotorik anak yang bersifat membangun individu secara
afektif .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar