OLEH
ARI SUHEDRA
NPM : 15 726 0005
PRODI SEJARAH
SEMESTER III
DOSEN : ANDRES M GINTING M,Pd
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Seorang pengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan mendidiknya harus memiliki
dasar empiris yang kuat untuk mendukung profesi mereka sebagai pengajar.
Kenyataan yang ada, kurikulum yang selama ini diajarkan di sekolah menengah
kurang mampu mempersiapkan siswa untuk masuk ke perguruan tinggi. Kemudian
kurangnya pemahaman akan pentingnya relevansi pendidikan untuk mengatasi
masalah-masalah sosial dan budaya, serta bagaimana bentuk pengajaran untuk
siswa dengan beragam kemampuan intelektual.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana teori belajar kognitif dan
penerapannya dalam pembelajaran?
2.
Bagaimana teori belajar
konstruktivistik dan penerapannya dalam pembelajara?
C. Tujuan
1. untuk mengetahui teori belajar konstruktivistik dan
penerapannya dalam pembelajara.
2. untuk mengetahui teori belajar kognitif dan
penerapannya dalam pembelajaran.
.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Teori Belajar Konstruktivistik dan
Penerapannya dalam Pembelajaran
1. Pengertian Teori Belajar
Konstruktivisme
Teori Konstruktivisme
didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan
mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Teori kontruktivisme lebih
memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan
pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan
pengalamannya. Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain,
karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya.
Pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif dimana terjadi proses
asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu keseimbangan sehingga terbentuk
suatu skema yang baru.
Teori konstruktivisme juga mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebih
menekankan pada proses daripada hasil. Hasil belajar sebagai tujuan dinilai
penting, tetapi proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga
dinilai penting. Dalam proses belajar, hasil belajar, cara belajar, dan
strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata pikir dan skema berpikir
seseorang. Sebagai upaya memperoleh pemahaman atau pengetahuan, siswa ”mengkonstruksi”
atau membangun pemahamannya terhadap fenomena yang ditemui dengan menggunakan
pengalaman, struktur kognitif, dan keyakinan yang dimiliki.
Dengan demikian, belajar menurut teori konstruktivisme
bukanlah sekadar menghafal, akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan
melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah hasil ”pemberian” dari orang lain
seperti guru, akan tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang dilakukan
setiap individu. Pengetahuan hasil dari ”pemberian” tidak akan bermakna. Adapun
pengetahuan yang diperoleh melalui proses mengkonstruksi pengetahuan itu oleh
setiap individu akan memberikan makna mendalam atau lebih dikuasai dan lebih
lama tersimpan atau diingat dalam setiap individu.
Adapun
tujuan dari teori konstruktivistik adalah sebagai berikut:
a. Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar
adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.
b. Mengembangkan
kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri
pertanyaannya.
c. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian
dan pemahaman konsep secara lengkap.
d. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi
pemikir yang mandiri.
e. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
B.
Proses
Belajar Menurut teori Konstruktivistik
Proses mengkonstruksi pengetahua
dapat dilakukan dengan menggunakan inderanya. Melalui interaksinya dengan objek
dan lingkungannya, misalnya dengan melihat, mendengar, menjamah, mambau, atau
merasakan, seseorang dapat mengetahui sesuatu. Pengetahuan bukanlah sesuatu
yang sudah ditentukan melainkan sesuatu proses pembentukan. Semakin banyak
seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungannya, pengetahuan dan
pemahamannya akan objek dan lingkungan tersebut akan meningkat dan lebih rinci.
Von Galserfeld (dalam Paul, S., 1996) mengemukakan bahwa ada beberapa kemampuan
yang diperlukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan, yaitu:
1. Kemampuan mengingat dan
mengungkapkan kembali pengalaman.
2. Kemampuan membandingkan dan
mengambil keputusan akan kesamaan dan perbedaan.
3. Kemampuan untuk lebih menyukai suatu
pengalaman yang satu dari pada lainnya.
Proses belajar konstruktivistik
secara konseptual jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai
perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa,
melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamanya melalui proses
asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur kognitifnya.
Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari pada segi perolehan
pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. Proses tersebut berupa “…..constructing
and restructuring of knowledge and skills (schemata) within the
individual in a complex network of increasing conceptual consistency…..”. pemberian
makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu tersebut tidak dilakukan
secara sendiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui interaksi dalam jaringan
sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya kelas maupun diluar kelas.
Oleh sebab itu pengelolaan pembelajaran harus diutamakan pada pengelolaan siswa
dalam memproses gagasannya, bukan semata-mata pada pengelolaan dan lingkungan
belajarnya bahkan pada unjuk kerja atau prestasi belajarnya yang dikaitkan dengan
sistem penghargaan dari luar seperti nilai, ijasah, dan sebagainya.
Proses belajar tidak lepas dari sebuah peran antara komponen-komponen pembentuk
sistem belajar, peran-peran tersebut diantaranya, yaitu:
a. Peranan Siswa (Si-Belajar): Paradigma konstruktivistik
memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum
mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam
mengkonstruksi pengetahuan yang baru. Oleh sebab itu meskipun kemampuan awal
tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru,
sebaiknya diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan.
b. Peranan Guru: Guru atau pendidik berperan membantu agar
proses pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru hanya
membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut lebih
memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belaajar. Guru tidak dapat
mengklaim bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan
kemauannya.
c. Sarana belajar: Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa
peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktivitas siswa dalam mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan,
lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan
tersebut. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya
tentang sesuatu yang dihadapinya. Dengan cara demikian, siswa akan terbiasa dan
terlatih untuk berfikir sendiri, memecahkan masalah yang dihadapinya, mandiri,
kritis, kreatif, dan mampu mempertanggung jawabkan pemikirannya secara
rasional.
d. Evaluasi belajar: Pandangan konstruktivistik mengemukakan
bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan
interpretasi terhadap realitas, konstruksi pengetahuan, serta
aktivitas-aktivitas lain yang didasarkan pada pengalaman. Hal ini memunculkan
pemikiran terhadap usaha mengevaluasi belajar konstruktivistik.
C. Ciri, Prinsip, Kelebihan dan
Kekurangan Teori Konstruktivistik
Adapun ciri-ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah:
a. Memberi
peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia
sebenarnya.
b. Menggalakkan soalan/idea yang dimulakan oleh murid
dan menggunakannya sebagai panduan
merancang pengajaran.
c. Menyokong pembelajaran secara koperatif mengambil
kira sikap dan pembawaan murid.
d. Mengambil kira dapatan kajian bagaimana murid
belajar sesuatu ide. Menggalakkan &
menerima daya usaha & autonomi murid.
e. Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan
murid & guru.
f. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang
sama penting dengan hasil
pembelajaran.
g. Menggalakkan proses inkuiri murid melalui kajian dan
eksperimen.
Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang
diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
a. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
b. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru
kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
c. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus,
sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
d. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi
agar proses kontruksi berjalan lancar.
e. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.
f. Struktur pembalajaran seputar konsep utama
pentingnya sebuah pertanyaan.
g. Mmencari dan menilai pendapat siswa.
h. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan
siswa.
Kelebihan dan Kekurangan dalam teori pembelajaran konstruktivistik diantaranya,
yaitu:
a. Kelebiahan:
- Proses pembelajaran konstruktivistik
siswa dituntut untuk bisa berfikir aktif dalam belajar.
- Murid terlibat secara langsung dalam mebina
pengetahuan baru, mereka akan lebih faham dan
boleh mengapliksikannya dalam semua situasi.
- Ingat lebih lama semua konsep, yakin murid
melalui pendekatan ini membina sendiri
kefahaman mereka.
Justru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam
situasi baru.
- Kemahiran sosial diperolehi apabila
berinteraksi dengan rakan dan guru dalam membina
pengetahuan baru.
b. Kekurangan:
- Kekurangan apabila ada siswa yang
pasif pembelajaran konstruktivistik ini tidak cocok untuk
siswa pasif.
- Dalam pembelajarannya tidak
memusatkan pada kurikulum yang ada.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Konsep belajar menurut teori kognitif ialah proses internal
yang tidak dapat diamati secara langsung. Perubahan tingkah laku terjadi dalam
situasi tertentu sebagai reflaksi perubahan internal. Berbeda dengan
behavioristik, teori kognitifmempelajari aspek-aspek yang tidak dapat diamati
seperti pengetahuan, arti, perasaan, keinginan, kreativitas, hrapan, dan
pikiran. Aplikasi praktis teori kognitif dalam pembelajaran ialah bahwa
pembelajaran harus menekankan perhatian siswa, strategi mengingat, pengulangan,
dan mengutamakan makna bukan memorasi.
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan
mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Teori kontruktivisme lebih memahami
belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan
memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamannya. Pengetahuan
tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain, karena setiap orang
mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya. Pembentukan pengetahuan
merupakan proses kognitif dimana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk
mencapai suatu keseimbangan sehingga terbentuk suatu skema yang baru.
AGAK MAKNYUS NE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar