FAKULTAS KEGURUNAN ILMU PENDIDIKAN
NAMA :
MARTINUS FRANSISCO MANURUNG
JURUSAN : PENDIDIKAN SEJARAH
SEMESTER : III
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Sudah
banyak pakar yang mengajukan teori belajar dan pembelajaran. Semua teori
tersebut dikembangkan dengan sudut pandang dan metode serta teknik yang
berbeda. Hasilnya, selain terdapat persamaan dan perbedaan diantara teori
tersebut, akan tetapi kebenaran dan keberhasilan teori tersebut masih dapat
diperdebatkan.Pada dasarnya terdapat dua pendapat tentang teori belajar yaitu teori
belajar Konstruktivisme dan teori belajar Kognitif.
Kontruktivisme merupakan teori baru dalam psikologi pendidikan. Teori konstruktivisme ini menyatakan
bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks,
mengecek informasi baru dengan aturan aturan lama dan merevisinya apabila
aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan
dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus bekerja memecahkan masalah,
menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan
ide-ide. Teori ini berkembang dari kerja Piaget, Vygotsky, teori-teori
pemrosesan informasi, dan teori psikologi kognitif yang lain, seperti teori
Burner (Slavin dalam fame, 2004:7).
Sedangkan teori belajar kognitif adalah teori yang umumnya dikaitkan dengan proses belajar. Kognisi adalah kemampuan psikis atau mental manusia yang berupa mengamati,
melihat, menyangka, memperhatikan, menduga dan menilai. Dengan kata lain,
kognisi menunjuk pada konsep tentang pengenalan. Teori kognitif menyatakan
bahwa proses belajar terjadi karena ada variabel penghalang pada aspek-aspek
kognisi seseorang.
Akan tetapi, kedua teori tersebut
memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Dimana seperti
kita ketahui bahwa setiap pemikiran manusia tentu tidak ada yang benar-benar
sempurna. Untuk itu pembahasan mengenai teori Konstruktivisme dan Kognitif akan
kami jabarkan lebih spesifik lagi dalam makalah ini untuk mengungkap
masalah-masalah tersebut, berdasarkan tulisan-tulisan dalam berbagai literatur
yang membahas tentang dua teori belajar tersebut. Tujuannya adalah, untuk memberikan pemahaman
kepada pembaca agar dapat mengetahui berbedaan kedua teori tersebut dan dapat
mengetahui aplikasi keduanya dalam kegiata belajar dan pembelajaran. Sehingga
pemehaman teori Konstruktivisme dan Kognitif
secara tepat akan dapat membantu guru maupu calon guru untuk memberikan
pembelajaran kepada siswanya
lebih efektif.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa definisi teori belajar Konstruktivisme dan Kognitif ?
2.
Apa perbedaan teori belajar Konstruktivisme dan Kognitif ?
3.
Bagaimana
aplikasi teori Konstruktivisme dalam pembelajaran ?
4.
Bagaimana
aplikasi teori Kognitif dalam pembelajaran ?
5.
Bagaimana
aplikasi kedua teori tersebut dalam pembelajaran ?
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah yang saya ambil
adalah bagaiman aplikasi teori konstruktivisme dan kognitif dalam pembelajaran.
1.4 Tujuan
1.
Mengetahui definisi teori belajar konstruktivisme dan kognitif.
2.
Mengetahui perbedaan teori belajar konstruktivisme dan kognitif.
3.
Mengetahui bagaimana
aplikasi teori konstruktivisme dalam pembelajaran.
4.
Mengetahui bagaimana
aplikasi teori kognitif dalam pembelajaran.
5.
Mengetahui
bagaimana aplikasi kedua teori tersebut dalam pembelajaran.
1.5
Manfaat
Adapun manfaat yang kita dapat
dari penelitian ini adalah kita dapat mengetahui apa pengertian teori
konstruktivisme dan kognitif dan bagaimana aplikasi kedua teori ini dalam
pembelajaran.
BAB
II
LANDASAN TEORI
2.1
Konsep Teori Konstruktivisme
Menurut teori konstruktivisme
ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa
guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus
membangun sendiri pengetahuan di dalam dirinya. Guru dapat memberikan kemudahan
untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau
menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara
sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi
siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan
catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut (fame, 2004:7).
Belajar bukanlah proses tekonologisasi (robot) bagi
siswa, melainkan proses untuk membangun penghayatan terhadap suatu materi yang
disampaikan sehingga proses pembelajaran tidak hanya meyampaikan materi yang
bersifat normatif (tekstual) tetapi juga harus juga menyampaikan materi yang
bersifat kontekstual.
Teori konstruktivisme membawa implikasi dalam
pembelajaran yang harus bersifat kolektif atau kelompok. Proses sosial
masing-masing siswa harus diwujudkan. C. Asri Budiningsih menyatakan bahwa
keberhasilan belajar sangat ditentukan oleh peran sosial yang ada pada diri
siswa. Dalam situasi sosial akan terjadi situasi saling berhubungan, terdapat
tata hubungan, tata tingkah laku dan sikap di antara sesama manusia.
konsekuensinya, siswa harus memiliki keterampilan untuk menyesuaikan diri
(adaptasi) secara tepat (Muchith, 2008: 72).
Dalam kaitannya dengan ini, Bettencourt (1989) mengemukakan bahwa ada tiga
penekanan dalam teori belajar kontruktivisme yaitu:
a.
Peran aktif siswa dalam
mengkonstruksi pengetahuan secara makna
b.
Pentingnya membuat kaitan
antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna
c.
Mengaitkan antara gagasan
dengan informasi baru yang diterima
Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam
belajar mengajar adalah :
1. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan
keaktifan murid sendiri untuk menalar
3. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi
perubahan konsep ilmiah
4. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi
berjalan lancar.
5. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
6. Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
7. Mencari dan menilai pendapat siswa
8.
Menyesuaikan kurikulum untuk
menanggapi anggapan siswa.
2.2
Konsep Teori
Kognitif
Teori Kognitif dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang
psikologi Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep
utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengarus terhadap
perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi piaget, berarti kemampuan untuk
secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam
reporesebtasi konsep yang berdasarkan pada kenyataan. Teori ini membahas
munculnya dan diperolehnya skema tentang bagaiman seseorang mempersepsi
lingkungan dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara
baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini di golongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak
seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai
pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan). Teori ini berpendapat bahwa kita
membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan
sendirinya terhadap lingkungan.
Menurut teori ini, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman.
Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku
yang bisa diamati. Asumsi dasar teori ini adalah setiap orang telah mempunyai
pengalaman dan pengetahuan dalam dirinya. Pengalaman dan pengetahuan ini
tertata dalam bentuk struktur kognitif. Menurut teori ini proses belajar akan
berjalan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi secara klop dengan
struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa.
Prinsip kognitif banyak dipakai di dunia pendidikan, khususnya terlihat
pada perancangan suatu sistem instruksional, prinsip-prinsip tersebut antara
lain :
a)
Seseorang yang
belajar akan lebih mampu mengingat dan memahami sesuatu apabila pelajaran
tersebut disusun berdasarkan pola dan logika tertentu.
b)
Pentusunan
materi pelajaran harus dari sederhana ke kompleks.
c)
Belajar dengan
memahami akan jauh lebih baik daripada dengan hanya menghafal tanpa pengertian
penyajian.
Adapun karakteristik dari teori
kognitif ini adalah :
a)
Belajar adalah
proses mental bukan behavioral.
b)
Siswa aktif sebagai
penyadur.
c)
Siswa belajar
secara individu dengan pola deduktif dan induktif.
d)
Instrinsik
motivasion, sehingga tidak perlu stimulus.
e)
Siswa sebagai
pelaku untuk menuntun penemuan.
f)
Guru
memfasilitasi terjadinya proses insight.
Beberapa tokoh dalam aliran
kognitif
·
Teori Gestalt
dari Wertheimer dkk Menekankan pada kebermaknaan dan pengertian sehingga tidak menimbulkan
abiguitas dalam proses pembelajaran.
·
Teori Schemata
Piaget Teori ini
mengatakan bahwa pengalaman kependidikan harus dibangun di sekitar struktur
kognitif siswa. Struktur kognitif ini bisa dilihat dari usia serta budaya yang
dimiliki oleh siswa.
·
Teori Belajar
Sosial Bandura Bandura
mempercayai bahwa model akan mempunyai pengaruh yang paling efektif apabila
mereka dianggap atau dilihat sebagai orang yang mempunyai kehormatan,
kemampuan, status tinggi, dan juga kekuatan sehingga dalam banyak hal seorang
guru bisa menjadi model yang berpengaruh.
·
Pengolahan
Informasi Norman Norman melihat
bahwa materi baru akan dipelajari dengan menghubungkannya dengan sesuatu yang
sudah diketahuinya, yang dalam teorinya disebut learning by analogy. Pengajaran
yang efektif memerlukan guru yang mengetahui struktur kognitif siswa.
2.3
Perbedaan
Teori Konstruktivisme dan
Kognitif
Pada dasarnya perbedaan yang menonjol dari teori konstruktivisme dan kognitif adalah, taori konstruktivisme lebih menekankan pada aspek kemampuan siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri dengan melalu
pengalaman-pengalaman nyata di lapangan. Sedangkan teori kognitif lebih
menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan
kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain.
Berikut ini akan tabel yang menunjukan perbedaan
diantara kedua teori tersebut yang meliputi kelebihan dan kelemahan
masing-masing dari kedua teori tersebut.
|
Perbedaan Teori Belajar Konstruktivisme
dan Teori Belajar Kognitif
|
||||
|
Aspek
|
Konstruktivisme
|
Kognitif
|
|
|
|
Tokoh
|
Schuman (1996), Merril (1991),
Smorsganbord (1997), Gagne, Bloom, Clark.
|
Jean
Piaget, Lev Vygotski
|
|
|
|
Dasar
Pemikiran
|
Pengetahuan dibangun secara
aktif.
|
Proses
berpikir dibalik tingkah laku
|
|
|
|
Kelebihan
|
Siswa diajak untuk memahami dan
menafsirkan kenyataan dan pengalaman yang berbeda, agar mereka lebih mampu
menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata. Contoh : bila siswa dapat menyelesaikan
masalah dengan berbagai cara, maka siswa akan terlatih untuk menerapkannya
dakam situasi yang berbeda(baru).
|
Penerapan
teori kognitif bertujuan untuk melatih siswa agar mampu mengerjakan tugas
dengan cara yang sama dan konsisten. Contoh: Cara belajar siswa berbeda-beda,
mereka perlu secara rutin dilatih untuk mencapai cara umum yang tepat.
|
|
|
|
Kelemahan
|
Dalam keadaan dimana
kesepakatan sangat diutamakan, pemikiran dan tindakan terbuka dapat
menimbulkan masalah. Contoh : mengikuti aturan sekolah tidak dapat ditawar
dan didiskusikan agar peraturannya dibuat berbeda bagi sekelompok siswa
tertentu. Mungkin hal itu merupakan gagasan yang konstruktif tetapi akan
sulit dilaksanakan.
|
Siswa
belajar suatu cara menyelesaikan tugas, tetapi cara yang dipilih belum tentu
baik (sesuai). Contoh: Siswa belajar cara menulis surat dengan cara yang
sama, perlu diperhatikan perbedaan selera dalam menulis surat.
|
|
|
Karena kedua teori belajar tersebut mempunyai kelebihan
dan kelemahan masing-masing, maka pemahaman dan penggunaan keduanya secara
tepat akan membuat pembelajaran yang dilakukan oleh guru kepada siswa akan
lebih efektif. Kedua teori belajar tersebut saling melengkapi.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1
Aplikasi Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran
Menurut pandangan konstruktivistik, belajar merupakan
suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh
siswa belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun
konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang
dapat dan harus mengambil prakarsa untuk menata lingkungan yang memberi peluang
optimal bagi terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan
terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa sendiri. Dengan istilah
lain, dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendali belajar sepenuhnya ada pada
siswa.
Paradigma konstruktivistik memandang siswa sebagai
pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu.
Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuan
yang baru. Oleh sebab itu meskipun kemampuan awal tersebut masih sangat
sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru, sebaiknya diterima dan
dijadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan.
Dalam
belajar konstruktivistik guru atau pendidik berperan membantu agar proses
pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru hanya membantu
siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Guru dituntut lebih memahami
jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Guru tidak dapat mengklaim
bahwa satu-satunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan
kemauannya.
Peranan kunci guru dalam interaksi pendidikan adalah
pengendalian, yang meliputi:
1) Menumbuhkan kemandiriran dengan menyediakan
kesempatan untuk mengambil keputusan dan bertindak.
2) Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan
bertindak, dengan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siswa.
3) Menyediakan sistem dukungan yang memberikan
kemudahan belajar agar siswa mempunyai peluang optimal untuk berlatih.
3.2 Aplikasi Teori Kognitif dalam Pembelajaran
Aplikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam
Pembelajaran adalah :
1.
Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu
guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2.
Anak-anak dapat belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan
baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan
sebaik-baiknya.
3.
Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak
asing bagi anak.
4.
Berikan peluang kepada anak, agar anak belajar sesuai tahap
perkembangannya.
5.
Di dalam kelas hendaknya anak diberi kesempatan untuk saling berbicara dan
diskusi dengan teman-temannya.
Selain itu, dalam kegiatan
pembelajaran, keterlibatan siswa secara efektif sangat penting. Sebab objek utamanya tentu siswa, bagaimana keberhasilan dalam
pembelajaran merupakan hal utama yang tentu saja siswalah yang lebih tahu
bagaimana cara mengembangkan daya pikir dalam menyerap dan memahami pelajaran
yang diberikan guru. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu
mengkaitkan pengetahuan baru dengan stuktur kognitif yang telah dimiliki siswa
(C. Asri, 2004: 51).
3.3
Aplikasi Teori Konstruktivisme dan Kognitif dalam Pembelajaran
1.
Guru harus membangun karakteristik siswa dengan menggunakan bahasa yang
harus dimengerti oleh siswa itu sendiri.
2.
Guru berperan secara aktif memahami jalan pikir siswa atau cara pandang
siswa dalam pembelajaran dan guru harus membantu siswa agar siswa dapat berinteraksi
dalam pembelajaran.
3.
Guru harus melihat kenyamanan siswa dalam belajar, bukan mendesak siswa
agar harus mengikuti kemauan guru tersebut, dan guru harus memberikan
kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dengan temannya.
a.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
Berdasarkan penjabaran
diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa :
a.
Teori konstruktivisme adalah
bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya
diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap
untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan
memberi makna melalui pengalaman nyata
b.
Teori kognitif adalah potensi intelektual yang terdiri
dari tahapan pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisa, sintesa, evaluasi.
Kognitif berarti persoalan yang mengangkat kemampuan untuk mengembangkan
kemamppuan rasional (akal).
c.
Aplikasi kedua
teori tersebut lebih menekankan kepada bagaimana siswa itu aktif untuk
membangun pengetahuannya sendiri, guru hanya sebagai motivator dan fasilitator
untuk siswa.
4.2 Saran
Penulis berharap agar makalah ini dapat berguna dalam
pembelajaran di kelas, dan penulis berharap pula agar pembaca bisa
menyempurnakan makalah ini agar bisa menjadi pedoman kepada guru dalam
melakukan pembelajaran di kelas.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati
dan Mujiono. 2009. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta. Rineka Cipta.
Gintings,
Abdorrakhman. 2008. Belajar dan
Pembelajaran, Disiapkan untuk Pendidikan
Profesi dan Sertifikasi Guru-Dosen. Bandung. Humaniora.
Budiningsih,
C. Asri. 2004. Belajar dan Pembelajaran.
Yogyakarta. Rineka Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar