MAKALAH
PENGERTIAN
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
“ASAS DAN PERINSIP BELAJAR DAN PEMBELAJARAN”
FAKULTAS KEGURUNAN ILMU PENDIDIKAN
NAMA :
MARTINUS FRANSISCO MANURUNG
JURUSAN : PENDIDIKAN SEJARAH
SEMESTER : III
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan
hidayahnya, sehingga penyusunan makalah dengan
judul “Asas perinsip belajar dan pembelajaran”
akhirnya dapat terselesaikan dengan baik. Kami mengharap dari isi makalah ini
dapat di jadikan suatu pedoman para guru untuk mengajar anak didiknya, sehingga
pesan/materi dapat sampai dengan baik.
Penyusunan
makalah ini pun dikerjakan untuk memenuhi tugas
yang diberikan oleh Bapak Dr. Andreas M Ginting M.Pd Mata kuliah Belajar Dan
Pembelajaran.
Penulisan
ini semoga dapat bermanfaat bagi kita semua,
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR…………………………………………......................... …..i
DAFTAR ISI………………………………………………………..........................ii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………..1
A.
LATAR BELAKANG………………………………………………………….1
B.
RUMUSAN MASALAH…………………………………………....................1
C.
TUJUAN……………………………………………………………...................2
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………...........3
A.
PENGERTIAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN………………...............3
B.
PRINSIP BELAJAR DAN PEMBELAJARAN………………........................3
BAB III PENUTUP……………………………………………...............................7
A.
KESIMPULAN………………………………………………………………...7
B.
SARAN……………………………………………………...............................7
DAFTAR
PUSTAKA……………………………………………............................8
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Ada
berbagai rumusan yang dikemukakan orang dalam upaya menjawab pertanyaan dengan
melihat pendidikan dari salah satu aspek kehidupan tertentu atau kacamata
disiplin keilmuan tertentu. Misalnya pandangan sosiologik melihat pendidikan
dari aspek sosial antara lain mengartikan bahwa “Pendidikan adalah sebagai
usaha mentransformasikan pengetahuan dari generasi ke generasi” (Ishak,
2005:27). Pandangan lain di lihat dari aspek budaya menyebutkan bahwa pedidikan
itu adalah sebagai usaha pemindahan pengetahuan dan nilai – nilai kepada
generasi berikutnya. Sedangkan pandangan Psikologik melihat pendidikan dari
aspek tingkah laku individu, antara lain mengartikan pendidikan sebagai
perkembangan kapasitas individu secara optimal. Pandangan dari sudut ekonomi
antara lain melihat bahwa pendidikan itu adalah sebagai usaha penanaman modal
insan (Human Investmen), dan yang terakhir dilihat dari sudut pandang
politik antara lain melihatnya sebagai pembinaan usaha kader bangsa.
Dari
uraian diatas kita dapat menarik benang merahnya bahwa pendidikan itu adalah
suatu kebutuhan yang akan menjamin kelangsungan hidup bagi setiap manusia. Hal
ini telah terbukti dengan adanya proses dari pendidikan itu sendiri dimana pada
masa sekarang ini, seseorang yang berpendidikan akan memegang peranan penting
dalam setiap aspek kehidupan dalam masyarakat.
Nah, untuk
mendukung hal tersebut tentunya diperlukan metode-metode ataupun cara-cara yang
akan membuat peserta didik mampu menyerap dan memahami materi apa yang akan
kita sampaikan yang nantinya kapasitas kita tentu saja akan menjadi seorang
pendidik. Selain dengan metode atau cara-cara yang efektif kita juga harus
mampu memahami peserta didik secara personal maupun secara kelompok.
Dalam
makalah yang akan kami paparkan kali ini yaitu menganai Prinsip Belajar dan
Pembelajaran yang nantinya akan membantu seorang pendidik untuk lebih memahami
dan lebih mengenal peserta didiknya.
B.
RUMUSAN MASALAH
Sesuai
dengan apa yang kita sampaikan sebelumnya bahwa makalah ini akan membahas
tentang Prinsip Belajar dan Pembelajaran, maka yang akan menjadi rumusan
masalahnya kali ini yaitu :
1. Apa
Pengertian Belajar dan Pembelajaran ?
2. Apa saja yang
menjadi Asas Prinsip Belajar dan Pembelajaran yang akan memotivasi siswa dalam
Proses Belajar di Kelas ?
C.
TUJUAN
Adapun
tujuan yang ingin di capai dalam makalah ini adalah agar para pendidik mampu
dan mengerti akan tugasnya sebagai seorang pendidik yang baik dalam enyampaikan
materi-materi ataupun bahan-bahan yang akan di transformasikan kepada siswanya
dengan memperhatikan beberapa prinsip yang akan membantu dalam proses belajar
mengajar dan bagaimana cara menciptakan suasana kelas yang sesungguhnya dan
yang di inginkan oleh siswa agar dalam prosesnya dapat berjalan dengan lancar
dan sesuai dengan target yang akan dicapai.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Belajar
Merupakan Tindakan dan Perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan, maka
belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadi atau
tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi karena siswa memperoleh
sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa
adalah keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia atau hal-hal
yang akan dijadikan bahan belajar.
Belajar adalah proses mencari,
memahami, menganalisis suatu keadaan sehingga terjadi perubahan perilaku, dan
perubahan tersebut tidak dapat dikatakan sebagai hasil belajar jika disebabkan
oleh karena pertumbuhan atau keadaan sementara. (Syaifuddin Iskandar : 2008 :
1)
Sedangkan pembelajaran/ instruksional adalah usaha
mengorganisasikan lingkungan belajar sehingga memungkinkan siswa melakukan
kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan menggunakan berbagai
media dan sumber belajar tertentu yang akan mendukung pembelajaran itu
nantinya.
B.
PRINSIP BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Ada banyak
sekali teorti dan prinsip belajar yang dikemukakan olehh para ahli yang satu
dengan yang lain memiliki persamaan dan
juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat prinsip yang
relatif berlaku umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya
pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun
bagi guru dalam upaya meningkatkan cara mengajarnya. Adapun prinsip-prinsip
Belajar dan Pembelajaran yaitu :
1.
Perhatian dan Motivasi
Perhatian
mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori belajr
pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin terjadi
belajar (Gage dan Barliner, 1984 : 335). Perhatian terhadap pelajaran akan
timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.
Di samping
perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar.
Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang.
Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil (Gage dan
Barliner, 1984 : 372).
“Motivation
is the concept we use when describe the force action on or within organism to
initiate and direct behavior””.
Demikian menurut H.L Petri (Petri, Herbert L, 1983:3). Motivasi dapat merupakan
tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi merupakan salah
satu tujuan dalam mengajar. Guru berharap bahwa siswa tertarik dalam kegiatan
intelektual dan estetik sampai kegiatan belajar berakhir. Sebagai alat,
motivasi merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil
belajar sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam
bidang pengetahuan, nilai-nilai dan keterampian.
Motivasi
dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga
bersifat eksternal yakni datang dari orang lain, dari guru, orang tua, teman
dan sebaginya. Motivasi juga dibedakan atas motif intrinsik dan motif
ekstrinsik. Motif intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan
perbuatan yang dilakukan. Sebagai contoh, seorang siswa yang dengan
sungguh-sungguh mempelajari mata pelajaran di sekolah karena ingin memiliki
pengetahuan yang dipelajarinya. Sedangkan Motif ekstrinsik adalah tenaga
pendorong yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi penyertanya,
sebagai contoh, siswa belajar dengan sungguh-sungguh bukan disebabkan ingin
memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh keinginan naik
kelas atau mendapatkan ijazah. Naik kelas dan mendapatkan ijazah adalah
penyerta dari keberhasilan belajar.
2.
Keaktifan
Menurut
teori kognitif, belajar menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa
mengolah informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya saja tanpa
mengadakan transformasi. Menurut teori ini anak memiliki sifat aktif, konstruktif,
dan mampu merencanakan sesuatu. Anak mampu untuk mencari, menemukan, dan
menggunakan pengetahuan yang diperolehnya. Dalam proses belajar mengajar anak
mampu mengidentifikasi, merumuskan masalah, mencari dan menemukan fakta,
menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan.
Thorndike
mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum “Law of exercise”-nya
yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. Dalam setiap
proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu beraneka
ragam, mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai pada kegiatan
psikis yang susah untuk kita amati. Kegiatan fisik dapat berupa membaca,
mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh
kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam
memecahkan maslaah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain,
menyimpulkan hasil percobaan, dan kegiatan psikis yang lain.
3.
Keterlibatan Langsung / Berpengalaman
Dalam Belajar
yang menggunakan pengalaman langsung, siswa tidak sekedar mengamati secara
langsung tetapi ia juga harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan,
dan bertanggung jawab terhadap hasilnya.
Pentingnya
keterlibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh Jhon Dewey dengan “Learning
by doing”. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung. Belajar
harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok,
dengan cara memecahkan masalah (problem solving). Guru kapasitasnya hanya
bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.
Keterlibatan
siswa di dalam belajar jangan diartikan sebagai keterlibatan fisik semata,
namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional,
keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan
pengetahuan, dalam penghayatan dan internalisasi nilai-nilai dalam pembentukan
sikap dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan
keterampilan.
4.
Pengulangan
Prinsip
belajar yang menekankan perlunya pengulangan barang kali yang paling tua adalah
yang dikemukakan oleh teori Psikologi Daya. Menurut teori ini belajar
adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya pengamat,
menanggap, mengingat, menghayal, merasakan, berfikir dan sebagainya. Dengan mengadakan
pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang. Seperti halnya pisau yang
selalu diasah akan menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan mengadakan
pengulangan-pengulangan akan menjadi sempurna.
5.
Tantangan
Dari teori
Medan yang dikemukakan oleh Kurt Lwewin, bahwa siswa dalam situasi belajar
berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa
menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan
yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan
tersebut dengan mempelajari bahan belajar tersebut.apabila hambatan itu telah
diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan masuk dalam medan
baru dan tujuan yang baru pula, demikian seterusnya.
Agar anak
timbul motif yang kuat untuk mengatasi hambatan dengan baik, maka bahan belajar
haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi oleh siswa dalam bahan belajar
membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar yang baru, yang
banyak mengandung maslaah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk
mempelajarinya. Pelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk menemukan
konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi akan menyebabkan siswa
berusaha mencari dan menemukan konsep-konsep dan generalisasi tersebut.
Penggunaan
metode eksperimen, inquiry, discovery juga memberikan tantangan bagi siswa
untuk belajar secara lebih giat dan sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun
negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan motif untuk memperoleh
ganjaran atau terhindar dari hukum yang tidak menyenangkan.
6.
Umpan Balik dan Penguatan
Prinsip
belajar yang berkaitan dengan umpan bailk dan penguatan terutama ditekankan
oleh teori belajar Operant Conditionong dari B.F. Skinner. Kalau pada teori
Conditionong yang diberikan kondisi adalah stimulusnya, maka pada Operant
Conditioning yang diperkuat adalah responsnya. Siswa akan belajar lebih
bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik. Hasil, apalagi
hasil yang baik, akan merupakan umpan balik
yang menyenangkan dan berpengaruh baik untuk usaha belajar selanjutnya.
Namun dorongan belajar itu menurut B.F. Skinner tidak saja oleh penguatan yang
menyenangkan tetapi juga yang tidak menyenangkan. Atau dengan kata lain
penguatan positif ataupun negatif dapat memperkuat belajar (Gage dan Barliner,
1984:272).Sebagai contoh siswa yang belajar dengan sungguh-sungguh dan
mendapatkan nilai yang baik dalam ulangan, maka nilai yang baik akan mendorong
anak untuk belajar lebih giat lagi. Sebaliknya, anak yang mendapatkan nilai
yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik kelas. Karena takut
tidak naik kelas, maka anak tersebut terdorong untuk belajar lebih giat lagi.
Dalam hal ini nilai buruk dan rasa takut akan mendorong anak tersebut untuk
belajar lebih giat. Inilah yang disebut dengan penguatan negatif dan di sini
siswa mencoba untuk menghindar dari peristiwa yang tidak menyenangkan. Format
sajian dapat berupa tagnya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan, dan
sebagainya merupakan cara belajar terjadinya umpan balik dan penguatan.
7.
Perbedaan Individual
Siswa
merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang yang sama persis,
tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu terdapat
pada karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya.
Perbedaan
individual ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya,
perbedaan individu perlu diperhatikan oleh guru dalam upaya pembelajaran.
Sistem pendidikan klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan
masalah perbedaan individu. Umumnya proses pembelajaran di kelas dengan melihat
siswa sebagai individu dengan kemampuan yang rata-rata, kebiasaan yang kurang
lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.
Pembelajaran
yang klasikal yang mengabaikan perbedaan individu dapat diperbaiki dengan
berbagai cara. Antara lain dengan penggunaan metode atau strategi belajar
mengajar yang bervariasi sehingga perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani.
Juga penggunaan media instruksional akan membantu melayani perbedaan-perbedaan
siswa dalam cara belajar. Usaha lain untuk memperbaiki pembelajaran klasikal
adalah dengan memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa
yang pandai, dan memberikan bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang.
Disamping itu dalam memberikan tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan minat
dan kemampuan siswa, sehingga bagi siswa yang pandai, sedang, maupun kurang
akan merasakan berhasil dalam di dalam pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas, kami dapat
menarik kesimpulan antara lain :
1. Bahwa
Belajar Merupakan Tindakan dan Perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan,
maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri.
2. Salah satu
tugas guru adalah mengajar. Dalam kegiatan mengajar ini tentu tidak boleh
sembarangan.
3. Proses
Mengajar harus dijalankan sesuai dengan prinsip yang ada sehingga dapat
menciptakan suasana kelas yang di nginkan bersama
B.
SARAN
Dalam
melaksanakan Proses Belajar dan Mengajar di kelas, sebaiknya sebagai calon
pendidik, kita harus bisa menjelaskan prinsip belajar, menerapkannya dalam
upaya meningkatkan kualitas kita sebagai calon pendidik dan juga menciptakan
suasana yang akan menjadikan siswa lebih nyaman dalam menerima bahan ajar yang
akan kita berikan nantinya.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyanti, Dr dan Mudjiono, Drs . Belajar dan Pembelajaran.
2002 Rineka Cipta & Departemen Pendidikan & Kebudayaan.
Syaifuddin Iskandar, DR, M.Pd, Materi Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran. 2008
Universitas Samawa
Keren
Tidak ada komentar:
Posting Komentar